Belajar Menulis dari Perbatasan: Catatan KKN Filsafat UNWIRA di SMPN 1 Silawan

 


Perbatasan selalu punya cerita. Bukan hanya soal garis imajiner yang memisahkan dua negara tetapi juga tentang anak-anak yang sedang mencari arah, guru-guru yang setia dan mahasiswa yang datang bukan sebagai pahlawan dadakan melainkan sebagai teman belajar. Itulah yang kami rasakan hari ini saat KKN Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang hadir di SMPN 1 Silawan untuk membawa materi tentang jurnalistik dasar.

Sejak pagi, udara Silawan terasa berbeda: ringan tapi penuh antusias. Pihak sekolah menerima kami dengan baik bukan sekadar formalitas melainkan sambutan yang menunjukkan betapa mereka menginginkan kehadiran kami. Murid-murid dari kelas VII hingga IX sudah duduk rapi, sebagian memegang buku dan sebagian masih tersenyum malu. Tapi begitu materi dimulai, rasa malu itu hilang berganti rasa ingin tahu.

Kami dibagi ke dalam empat kelas dan di setiap kelas ada dua mahasiswa KKN yang mengajar. Kami tidak datang membawa teori tebal atau istilah rumit. Kami datang dengan pertanyaan sederhana: “Apa cerita yang ingin kalian tulis?”

Dan dari situ, sesuatu mulai tumbuh.

Jurnalistik dari Mata Anak Perbatasan

Materi kami mulai dari dasar: apa itu jurnalistik, bagaimana membuat lead yang baik dan bagaimana menulis peristiwa sederhana. Tapi yang membuat sesi hari ini hidup bukan teori melainkan cara anak-anak itu memandang dunia. Ada yang menulis tentang kegiatan sekolah. Ada yang menulis tentang kehidupan di rumah. Ada yang bercerita tentang alam Silawan, tentang kampungnya dan tentang hal-hal kecil yang selama ini mereka anggap biasa. Ternyata, dunia mereka tidak biasa sama sekali. Mereka hanya belum tahu bahwa apa yang mereka alami layak menjadi cerita.

Para murid bukan cuma mendengarkan tapi terlibat aktif. Mereka mengangkat tangan, bertanya bahkan saling mengoreksi. Ruang kelas yang tadi sunyi berubah menjadi tempat diskusi kecil yang hangat. Kami tidak hanya mengajar; kami turut belajar dari cara mereka memotret kenyataan.



Ketika Filosofi Bertemu Jurnalistik

Sebagai mahasiswa filsafat, kami jarang turun mengajar jurnalistik ke anak SMP. Tapi hari ini membuktikan bahwa filsafat tidak pernah jauh dari kehidupan nyata. Jurnalistik adalah seni melihat kenyataan. Filsafat adalah seni bertanya tentang kenyataan. Ketika keduanya bertemu, anak-anak mulai melihat bahwa menulis bukan sekadar tugas sekolah tetapi jalan untuk memahami diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

“Menulis itu seperti mengambil foto,” kata salah satu mahasiswa KKN di kelas.

“Bedanya, kamera kalian adalah pikiran.” Dan ternyata mereka langsung paham.

Hasil Tulisan yang Membanggakan

Yang paling membahagiakan dari kegiatan ini bukan tepuk tangan, bukan foto bersama dan bukan dokumentasi. Yang paling membahagiakan adalah melihat lembar tulisan yang mereka hasilkan.

Sebagian masih polos, tetapi jujur. Sebagian masih berantakan tetapi berani. Sebagian sudah terlihat seperti draf berita dan ini luar biasa untuk ukuran anak SMP yang baru bertemu jurnalistik dalam satu hari. Itulah kekuatan literasi ketika diberi ruang: anak-anak menemukan suara mereka sendiri.



KKN yang Tidak Sekadar Kunjungan

Bagi kami, Silawan bukan sekadar lokasi KKN. Ia adalah ruang belajar baru. Ruang tempat kami diuji, diperbaiki dan disadarkan bahwa pendidikan bukan soal siapa yang lebih tahu tetapi siapa yang mau mendengarkan lebih dulu.

Anak-anak SMPN 1 Silawan telah membuktikan bahwa di perbatasan, potensi tidak pernah kurang. Yang kurang hanya kesempatan dan perhatian. Sebagian dari mereka mungkin tidak pernah bermimpi menjadi jurnalis. Tapi hari ini, mereka membuktikan bahwa mereka bisa menulis. Dan itu cukup untuk membuka pintu yang lebih besar.

Kami pulang dengan full senyum. Bukan karena kami merasa hebat tetapi karena kami melihat bahwa benih-benih literasi itu mulai tumbuh. Pelan tapi pasti. Dan seperti kata seorang murid sebelum kami pamit:

“Kak, ternyata menulis itu tidak sesulit yang saya pikir.”

Barangkali kalimat sederhana itu cukup untuk membuat perjalanan hari ini berarti.



Media ini dijalankan secara independen.

dukung kami lewat donasi sukarela.

Klik untuk donasi
Next Post Previous Post
No Comment
Tambahkan Komentar
comment url